Minggu, 18 Januari 2015

dolanan arek

Mesti setuju kabeh yooo....Setiap anak dianugerahkan bermacam-macam potensi kecerdasan. Logika matematika, visual spatial, gerak tubuh, musikal, emosi, dan naturalis merupakan potensi-potensi kecerdasan anak yang perlu dirangsang dan dikembangkan.

Bagi seorang anak, bermain adalah kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainan. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, bekerja, dan belajar. Anak – anak akan menikmati permainannya sampai kapan pun dan akan terus melakukannya di manapun mereka memiliki kesempatan, sehingga bermain salah satu cara anak usia dini untuk belajar, karena melalui bermain anak mulai belajar tentang apa yang ingin mereka ketahui dan akhirnya mampu mengenal semua peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitarnya, seperti bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan.

tambahan sitik....
http://www.edu-games.com

 
Tahukah Anda bahwa tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode dimana miliaran sel Glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan sambungan antar neuron disebut dendrite berbentuk mirip sarang laba-laba dan axon yang berbentuk memanjang. Sebagai catatan, anak-anak kita dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. [dikutip dari website DepKes RI: www.depkes .co.id/bayi/otak]
Bukan tentang jumlah neuron dalam kepala si kecil yang ingin kami garis bawahi, namun tentang fakta bahwa tiga tahun pertama perkembangan si kecil merupakan masa-masa emas dalam pembentukan otak cerdasnya. Karena otak, tumbuh dengan sangat pesat dan akan mencapai 70-80% pada 3 TAHUN PERTAMA kehidupan si kecil. Memberi rangsangan secaa tepat pada otak si kecil pada masa tersebut akan membantu si kecil mempertahankan sambungan neuron yang telah terbentuk saat proses eliminasi terjadi diusia 11 tahun.
Meski demikian, para orang tua tidak dapat secara sembarangan memberikan rangsangan dimasa tiga tahun pertama tersebut, karena mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasa dan disentuh dari lingkungan mereka. “Kemampuan otak merena untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang.” papar dr. Susan, salah seorang nara sumber untuk website Departemen Kesehatan RI.
Hal inilah yang mendasari PT. Tigaraksa Satria dalam memenuhi kebutuhan akan pendidikan, dimana program tersebut telah dirancang khusus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan si kecil. Program ini misalnya tidak memberikan beban pada si kecil untuk belajar. Namun lewat interaksi yang menyenangkan antara orang tua dan anak, dengan menggunakan kartu-kartu belajar yang menarik, anak-anak secara tanpa sadar belajar dengan gembira layaknya bermain dan orang tua dapat memastikan tiga tahun ke-emasan si kecil dapat mengantarkannya pada kesuksesan emas di masa depan.

www.tigaraksa-educationalproducts.com

mulano kwi kita....??? ooo duduk bagi orang tua maksute(karena saya belum tua) haha...komek2...